![]() |
Menteri Agama Nasaruddin Umar ketika memberikan sambutan pada acara Pembukaan MTQ Nasional di Semarang, Sabtu (12/9/2026) malam |
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar turut hadir bersama
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi,
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, para gubernur dan wakil gubernur,
serta Kepala Kanwil Kementerian Agama dari berbagai daerah.
Ribuan masyarakat turut memadati Lapangan Pancasila untuk
menyaksikan pembukaan ajang yang mempertemukan kafilah dari seluruh Indonesia
tersebut. MTQ Nasional XXXI berlangsung hingga 20 September 2026.
Menag Nasaruddin Umar mengatakan, MTQ Nasional tidak sekadar
menjadi ajang perlombaan membaca, memahami, dan menghafal Al-Qur’an.
Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki makna sosial dan kebangsaan yang besar
karena mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang budaya dan
tradisi.
“Kafilah dari berbagai penjuru Nusantara datang dengan
bahasa, budaya, dan tradisi beragam. Mereka bertemu bukan hanya untuk
berkompetisi, tetapi juga untuk membangun persahabatan dan memperkuat
persaudaraan,” ujar Nasaruddin.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai
Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari atau living Quran. Nilai
tersebut, kata dia, harus tercermin dalam keluarga, lingkungan kerja, kehidupan
bermasyarakat hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam keluarga, nilai Qurani dapat diwujudkan melalui kasih
sayang, tanggung jawab, musyawarah, dan sikap saling menghormati. Sementara
dalam lingkungan kerja, nilai tersebut dapat diterapkan melalui amanah,
kedisiplinan, profesionalisme, serta pelayanan yang adil.
Nasaruddin juga mengingatkan agar kedekatan dengan Al-Qur’an
tercermin dalam integritas dan tanggung jawab ketika menjalankan kewenangan. Ia
menekankan pentingnya menjauhi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan serta
menjaga kepercayaan masyarakat.
Di tengah masyarakat, nilai Al-Qur’an juga dapat diwujudkan
melalui sikap saling menolong, memeriksa informasi sebelum menyebarkannya,
serta menghindari fitnah, hoaks dan ujaran kebencian.
MTQ Nasional XXXI diikuti kafilah dari 37 provinsi dengan
total 2.242 peserta. Mereka mengikuti delapan cabang lomba yang terbagi dalam
24 golongan dan 48 kategori, mulai anak-anak hingga dewasa.
Ajang tersebut juga menghadirkan cabang ekshibisi Al-Qur’an
bagi penyandang disabilitas sensorik tuli melalui pemanfaatan mushaf Al-Qur’an
isyarat. Langkah ini menjadi bagian dari pesan inklusivitas bahwa setiap orang
memiliki kesempatan mempelajari Al-Qur’an.
Untuk mendukung pelaksanaan lomba, Menag telah mengukuhkan
tujuh Dewan Pengawas dan 155 Dewan Hakim. Perlombaan digelar serentak di 12
venue di Kota Semarang.
Menag meminta seluruh peserta mengikuti musabaqah dengan
sungguh-sungguh, jujur dan menjunjung sportivitas. Dewan hakim dan
penyelenggara juga diminta menjaga objektivitas, profesionalisme dan
transparansi dalam penilaian.
Dalam kesempatan tersebut, Menag mengumumkan MTQ akan digelar setiap tahun. Kebijakan itu mengubah pola sebelumnya yang menetapkan MTQ berlangsung dua tahun sekali secara bergantian dengan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ). (ais)
