Dari total peserta, sebanyak 420 petenis berasal dari dalam
negeri melalui kategori Tenis Daerah Pendukung (TDP). Sementara 150 petenis
lainnya merupakan peserta internasional yang datang dari 20 negara.
Peserta asing antara lain berasal dari Vietnam, Singapura,
Filipina, Korea Selatan, Hong Kong, Chinese Taipei, India, Fiji, Australia,
Thailand, Belanda, Vanuatu, Jepang, Malaysia, Yunani, Amerika Serikat,
Irlandia, Prancis dan Belgia.
Jumlah peserta yang cukup besar membuat pertandingan digelar
di lima venue, yakni Lapangan Tenis Kodam V/Brawijaya, Unesa, PDAM Ngagel,
Marinir Gunungsari dan Pratama Surabaya.
Turnamen mempertandingkan sejumlah kelompok usia. Untuk
kategori internasional, peserta berlaga mulai kelompok usia KU 14, KU 16 hingga
KU 18. Sementara kategori pendukung juga memberikan ruang bagi petenis usia
dini untuk mendapatkan pengalaman bertanding.
Tournament Director ITF Junior Widjojo Soejono 2026, Didik
Utomo Pribadi, mengatakan turnamen tahun ini menerapkan sistem round robin pada
nomor ITF. Dengan format tersebut, pemain yang mengalami kekalahan tidak
langsung mengakhiri kiprahnya dalam turnamen.
“Dengan sistem ini, peserta yang kalah tidak langsung gugur
dan pulang, melainkan mendapat kesempatan untuk bertanding lagi. Ini memberikan
semangat tinggi bagi para atlet,” kata Didik.
Menurut dia, sistem tersebut memberikan kesempatan kepada
petenis junior untuk mendapatkan lebih banyak jam terbang sekaligus menghadapi
lawan dengan karakter permainan yang berbeda.
Putra pencetus turnamen, Roy Pandu Widjojo, mengatakan
keberlanjutan kejuaraan menjadi bagian penting dari semangat awal
penyelenggaraan. Turnamen tersebut sejak awal diarahkan sebagai wadah bagi
petenis junior Indonesia untuk mendapatkan pengalaman bertanding di level
internasional.
“Kejuaraan ini sejak awal diselenggarakan untuk memberi
kesempatan atlet junior Indonesia bertanding di level internasional. Kita
bersyukur dan tetap konsisten menjaga marwah turnamen ini,” ujar Roy.
Sementara itu, Ketua Umum Pengprov Pelti Jawa Timur Ismed
Jauhar berharap kompetisi internasional dapat digelar lebih banyak pada masa
mendatang. Menurutnya, semakin banyak pertandingan akan membuka peluang lebih
besar bagi proses regenerasi petenis.
“Tiap tahun kita menyelenggarakan kejuaraan internasional
ITF. Target kami tahun depan insyaallah bisa menyelenggarakan lebih dari
sekali, baik skala ITF maupun ATP untuk menumbuhkan atlet-atlet baru menuju
prestasi,” tutur Ismed.
Didik menambahkan, ITF Junior Widjojo Soejono bukan sekadar
agenda pertandingan, tetapi juga warisan yang perlu dijaga kesinambungannya.
“Kejuaraan ini merupaka
n warisan luhur dari almarhum
Jenderal Widjojo Soejono yang harus terus dirawat secara berkesinambungan,”
tegasnya.
Penyelenggaraan turnamen diharapkan mampu memberikan
pengalaman internasional bagi petenis muda Indonesia sekaligus memperkuat
proses pembinaan dan regenerasi tenis menuju jenjang prestasi nasional maupun
internasional. (zal)
