NUSA DUA – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak
menekankan pentingnya mengintegrasikan mitigasi risiko bencana dalam
perencanaan dan penataan kawasan permukiman. Menurutnya, pembangunan hunian
harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjamin keselamatan warga.
Hal itu disampaikan Emil saat menghadiri Asia-Pacific
Network for Housing Research (APNHR) International Conference 2026 di
Politeknik Pariwisata Bali, Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa (6/10).
Dalam forum tersebut, Emil membagikan pengalaman Jawa Timur
dalam menghadapi risiko bencana, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat
kerawanan tinggi. Ia menilai risiko bencana dapat semakin besar ketika kawasan
rawan berkembang menjadi permukiman padat tanpa pengendalian dan mitigasi yang
memadai.
“Menghadapi tantangan tersebut, terdapat beberapa solusi
utama yang harus ditempuh yaitu pencegahan dan pengendalian serta penerapan
rekayasa teknik,” kata Emil.
Ia menjelaskan, pencegahan dapat dilakukan dengan membatasi
penambahan kepadatan secara tidak proporsional di wilayah rawan bencana.
Sementara untuk permukiman yang sudah ada, diperlukan rekayasa teknik yang
didukung standar teknis bangunan atau building code serta mitigasi risiko yang
baik.
Emil menyoroti ancaman tanah longsor dan banjir bandang,
terutama di kawasan permukiman yang berada di wilayah berlereng. Menurutnya,
banjir bandang di daerah tersebut tidak hanya membawa air, tetapi juga material
longsoran dan potongan kayu yang meningkatkan daya rusak.
Ia juga memaparkan kerja sama dengan TNI Angkatan Darat
dalam penanganan kawasan rawan longsor melalui pembangunan saluran khusus untuk
mengarahkan aliran air menuju sungai sekaligus memperkuat tebing. Rekayasa
tersebut diterapkan pada jalur Trenggalek-Ponorogo dan disebut mampu mengurangi
kejadian longsor secara signifikan.
Untuk kawasan perkotaan, Emil menyoroti persoalan banjir
akibat kiriman debit air dari wilayah hulu serta keterbatasan kapasitas sungai
dan drainase.
Selain mitigasi bencana, Emil mendorong arsitek menghadirkan
bangunan yang efisien, tahan terhadap risiko, dan ramah lingkungan. Ia juga
mengingatkan pentingnya mempertahankan unsur budaya dan kekhasan arsitektur
Indonesia.
APNHR International Conference 2026 mengangkat tema
“Navigating Asia-Pacific Housing Futures: Financialization, Technology,
Governance, and Climate Action”. Konferensi tersebut mempertemukan akademisi,
peneliti, praktisi, pemerintah, dan mahasiswa dari berbagai negara untuk
membahas masa depan perumahan di tengah perubahan iklim dan tantangan
pembangunan. (min)
