SURABAYA — Petenis muda Jepang yang bernaung di Jakarta International Tennis Academy (JITA), Rina Imai, menunjukkan mental kuat saat menghadapi Putu Dyvania Teriana pada final tunggal putri U14 ITF Widjojo Soejono 2026, Sabtu (3/10/2026) di Surabaya.
Rina sempat kehilangan set pertama, tetapi mampu mengubah
jalannya pertandingan. Ia merebut gelar juara setelah memenangi laga sengit
melalui super tie-break dengan skor 5-7, 6-2, 10-6.
Pertandingan berlangsung di Lapangan Tenis Kodam
V/Brawijaya, Surabaya. Kedua petenis langsung bermain agresif dengan tempo
tinggi sejak awal laga.
Reli panjang dari baseline mewarnai pertandingan. Rina dan
Putu berusaha menjaga konsistensi pukulan sambil mencari celah untuk meraih
poin.
Persaingan ketat membuat Rina harus mengakui keunggulan Putu
pada set pembuka. Petenis Indonesia itu mengamankan set pertama dengan skor
7-5.
Tertinggal satu set, Rina dituntut segera menemukan kembali
pola permainan dan menjaga konsentrasi. Situasi tersebut justru mendorongnya
melakukan perubahan.
Pada set kedua, Rina tampil lebih tenang. Ia mengurangi
kesalahan sendiri dan bermain lebih konsisten dalam reli. Permainan yang lebih
terkontrol membuatnya perlahan mengambil alih momentum.
Tekanan yang diberikan Rina membuat Putu kesulitan
mengembangkan permainan. Rina pun memanfaatkan peluang yang ada untuk membangun
keunggulan.
Strategi tersebut membuahkan hasil. Rina merebut set kedua
dengan skor 6-2 dan memaksa pertandingan berlanjut ke super tie-break.
Fase penentuan berlangsung menegangkan. Setiap poin menjadi
krusial, sementara kedua petenis terus berusaha menjaga fokus dan menghindari
kesalahan.
Putu tetap memberikan perlawanan, tetapi Rina mampu
mempertahankan keunggulan hingga akhir. Ia menutup super tie-break dengan skor
10-6 sekaligus memastikan kemenangan 5-7, 6-2, 10-6.
Gelar tersebut menjadi catatan penting bagi Rina, terutama
karena diraih setelah bangkit dari ketertinggalan. Final itu juga memberinya
pengalaman menghadapi tekanan tinggi dan mengelola pertandingan dalam situasi
sulit.
Rina merupakan petenis muda Jepang yang mendapat pembinaan
di JITA. Di tengah rutinitas latihan dan keikutsertaan dalam berbagai
kompetisi, ia tetap menjalani pendidikan di Raffles Christian School.
Perjalanannya sebagai atlet tidak terlepas dari dukungan
keluarga dan teman-teman. Mereka terus memberikan semangat selama Rina berlatih
maupun bertanding.
Usai laga, Rina mengungkapkan kebahagiaannya setelah meraih
kemenangan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga dan
teman-temannya.
“Happy and really thank you my family and friend,” ujar
Rina.
Kemenangan di Surabaya menunjukkan bahwa hasil pertandingan
tenis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memukul bola. Konsentrasi,
pembacaan situasi, pengambilan keputusan, dan ketenangan turut berperan,
terutama dalam laga dengan tekanan tinggi.
Bagi Rina, gelar ITF Widjojo Soejono 2026 menjadi salah satu
pengalaman penting dalam perjalanan tenis juniornya. Turnamen tersebut juga
menjadi bagian dari proses pembinaan untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan
menghadapi kompetisi berikutnya.
Dengan dukungan keluarga, pendidikan di Raffles Christian
School, serta pembinaan dari JITA, perjalanan Rina di tenis junior masih
panjang. Gelar di Surabaya menjadi salah satu pijakan penting dalam proses
tersebut.
“Dukungan keluarga dan teman-teman membuat saya selalu
termotivasi untuk menang. Terima kasih semuanya,” pungkas Rina dalam bahasa
Jepang, yang diterjemahkan oleh orang tuanya. (zal)
